1. HOME
  2. SENI BUDAYA

HoS Sampoerna dan STKW gelar pameran lingkungan, seni dan teknologi

"Penyelenggaraan pameran EAT ini diharapkan bisa memberi kesadaran akan pengaruh positif dan negatif dari teknologi," kata Bogel.

Pameran seni di Hos Sampoerna. ©2017 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Kamis, 15 Juni 2017 21:51

Merdeka.com, Jatim - Pengaruh pertumbuhan dan perkembangan teknologi lalu persaingan di bidang usaha secara tidak langsung akan juga mempengaruhi kondisi lingkungan di sekitar manusia.

"Penyelenggaraan pameran EAT ini diharapkan bisa memberi kesadaran akan pengaruh positif dan negatif dari teknologi, dan dapat ditanggapi secara bijak oleh seluruh masyarakat dan perusahaan yang memanfaatkan teknologi dan berbagai sumber daya yang ada," ujar 'Bogel' Asmuliawan Koordinator pameran.

House of Sampoerna (HoS) menggandeng Universitas Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menunjukkan kepeduliaannya melalui pameran Patung & Instalasi dengan mengusung tema 'EAT (Environment-Art-Technology)' yang diselenggarakan pada tanggal 16 Juni – 08 Juli 2017di Galeri HoS.

Pameran yang diikuti oleh 11 peserta pameran yang terdiri dari mahasiswa dan alumni STKW diharapkan akan menjadi sindiran maupun ketukan hati akan kondisi yang dialami oleh para pengguna maupun pemanfaat teknologi dan sumberdaya alam.

Terdapat 30 karya seni patung dan instalasi yang penuh dengan sentuhan kreatifitas dan pesan, hasil dari ide liar dan bebas dari generasi muda masa kini.

Asmi misalnya, mahasiswa STKW ini menampilkan karya dalam bentuk kayu & kawat dengan judul 'PRASASTI' yang menjadi sindiran akan maraknya kegiatan yang terkait dengan lingkungan namun hanya bersifat formalitas belaka. Begitu juga nampak pada “SESAK” karya Wahid, yang menggunakan teknik Trimatra (teknik penyusunan benda dengan memunculkan unsur 3 dimensi yang dimiliki pula oleh karya patung).

'SESAK' menggambarkan kesuburan pepohonan, kesegaran air alaminya, serta kesegaran udara alam hanyalah sebuah mitos, karena pada kenyataannya saat kita bernafas hidung kita menyadarkan akan buruknya kualitas udara yang terhirup, tenggorakan kita pun dapat merasakan betapa sesak sudah alam Ibu Pertiwi.

 

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Seni dan Budaya
KOMENTAR ANDA