1. HOME
  2. KOMUNITAS

Cerita para sarjana yang mengabdi sekolah di pelosok

Mereka tergabung dalam Komunitas Jempol. Tertarik bergabung?

©2017 Merdeka.com Reporter : Nur Salam | Kamis, 30 Maret 2017 15:16

Merdeka.com, Jatim - Setelah lulus dari perguruan tinggi, para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Jempol berupaya mengabdikan diri untuk memberi motivasi dan pendidikan ekstrakulikuler di sekolah tingkat SD. Terutama sekolah yang berada di pelosok-pelosok desa Banyuwangi.

Komunitas Jempol, mulanya terbentuk dari perkumpulan para mahasiswa dari Banyuwangi yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi. Mereka terjalin dalam Ikatan Pelajar Banyuwangi. "Awalnya ngobrol-ngobrol saja. Karena sudah sama-sama selesai kuliah, pulang ke Banyuwangi ingin mengabdikan diri. Anggotanya dari berbagai lulusan universitas," jelas Herwin Kurniawan (24), Ketua Komunitas Jempol kepada Merdeka Banyuwangi, Kamis (27/10).

Erwin mengatakan, komunitas Jempol terbentuk sekitar awal tahun 2016. Dari 7 anggota, sekarang sudah mencapai 30 orang. Dia bersama anggotanya membuat kegiatan yang fokus terhadap isu pendidikan. Mulai dari menggalang dana sebagai bentuk beasiswa kepada siswa kurang mampu, donasi buku, sampai memberi motivasi.

"Dananya digalang dari para donatur. Kalau motivasi ini biasanya kami mengundang orang-orang yang bisa menginspirasi mereka. Misalkan seorang apoteker, jurnalis dan mereka yang berprofesi jelas," kata sarjana Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Setiap bulan, Banyuwangi Jempol akan mengunjungi sekolah-sekolah yang berada di pedesaan. Nama komunitas Jempol sendiri kata Erwin diambil dari simbol kebaikan. "Dan kami mulai belajar dari filosofi jempol itu sendiri," jelasnya.

Program komunitas Jempol, salah satunya bernama Jempol Goes to School. “Untuk Jempol goies to school menjadi puncak kegiatan ketiga kami, setelah beasiswa lintang ulan yang menjadi pokok utama program unggulan, selain program kampanye donasi buku," kata dia.

Erwin mengatakan, prinsip berbagi di dunia pendidikan sebagai bentuk pengabdian diri untuk tanah kelahiran. Setelah lulus kuliah dan kembali ke desa, dia dan teman-temannya yang pernah tergabung dalam Ikatan Pelajar Banyuwangi bisa terus menjalin silaturahmi sambil berbagi untuk pendidikan di Banyuwangi.

"Pengennya ngabdi di tanah kelahiran sendiri, terutama di desa-desa. Soalnya saya sendiri juga dari desa," ujarnya.

(MH/NS)
  1. Pendidikan
KOMENTAR ANDA