1. HOME
  2. KABARE JATIM

Setelah Luhut kunjungi PT Garam Sumenep, pemerintah janjikan ini

"Nantinya air tua akan disiapkan oleh pemerintah dengan kualitas bagus dengan kadar NaCl di atas 97 persen," kata Luhut.

Wagub Saifullah Yusuf saat mendampingi Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. ©2017 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Rabu, 30 Agustus 2017 19:15

Merdeka.com, Jatim - Garam menjadi salah satu problematika yang dihadapi Indonesia belakangan ini. Lebih dari empat bulan, harga garam terus naik. Pemerintah akhirnya mendatangkan garam impor dari Australia. Sementara petani garam banyak yang mengeluh lantaran produksinya dihargai rendah.

Oleh karena itu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan Menko Maritim Luhut B. Panjaitan untuk terjun langsung ke lapangan. "Kenapa bertahun-tahun kita impor garam dan petani masih menderita," kata Luhut saat kunjungan kerja (kunker) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan di PT Garam (Persero) Kalianget, Kabupaten Sumenep, Rabu (30/8).

Didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Luhut mengatakan pemerintah segera
menyiapkan infrastruktur untuk industri garam, yakni penyediaan air tua.

Manfaat lainnya, air tersebut bisa digunakan untuk mengembangbiakkan ikan bandeng dan artemia. "Nantinya air tua akan disiapkan oleh pemerintah dengan kualitas bagus dengan kadar NaCl di atas 97 persen," katanya.

Selain itu, Luhut juga meminta agar para petani garam dibuatkan wadah semacam koperasi untuk memudahkan koordinasi dan penyaluran bantuan dari pemerintah. Caranya, membuat koperasi yang beranggotakan petani garam setiap 100 hektare. Langkah ini juga dilakukan untuk menurunkan biaya produksi.

Langkah lainnya, lanjut Luhut, pemerintah sedang melakukan studi yang melibatkan berbagai pihak seperti PT Garam (Persero) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Studi ini salah satunya akan melihat struktur biaya produksi garam. "Kami ingin biaya rendah dan supply demand terpenuhi. Untuk itu produksi harus cukup," katanya.

Sementara Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyambut baik good will (niat baik) dari pemerintah pusat untuk melakukan langkah progresif dalam rangka meningkatkan produksi garam dalam negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petaninya. Dimana, pemerintah pusat akan membenahi industri garam melalui sistem teknologi yang lebih modern sehingga proses industri lebih efisien dan keuntungan lebih tinggi.

Ia menambahkan, selain membenahi industri garam, pemerintah pusat juga berupaya menaikkan Harga Pokok Penjualan (HPP) garam di petani. "Ini yang harus disambut baik tidak hanya oleh pemerintah daerah tapi juga petani garam, asalkan petani garam bisa mengubah mindset pasti keuntungannya akan lebih besar dari sebelumnya," katanya.

Langkah ini, lanjut Gus Ipul, harus didukung oleh semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan petani. Termasuk usulan dari Menko Maritim untuk membuat koperasi bagi para petani garam. Menurut dia keberadaan koperasi ini akan memudahkan pemerintah dalam memberi bantuan bagi para petani.

Dalam kesempatan ini Gus Ipul juga mendukung langkah perubahan yang dilakukan oleh jajaran direksi PT Garam (Persero) untuk memperbaiki industri garam. "Mari kita berubah, sudah cukup lama kita menunggu masalah garam tanah air bisa swasembada dan yang terpenting petaninya makin sejahtera," katanya sembari menambahkan bahwa langkah ini konkret dan nyata untuk mewujudkan swasembada garam 2019.

Ditambahkannya, produksi garam di Provinsi Jatim terdapat di beberapa kab/kota seperti Kabupaten Tuban, Lamongan, Pasuruan, Kota Pasuruan dan Kabupaten Gresik. Kemudian Kabupaten Probolinggo, Sidoarjo, Kota Surabaya dan 4 kabupaten di Pulau Madura. Luas lahan garam di 12 kab/kota tersebut sekitar 11.593,60 hektare dengan produksi sekitar 9.037 ton.

Sementara produksi garam di Jatim pada 2015 mencapai 1.603.909,44 ton, Tahun 2016 mencapai 123.873,59 ton dan Tahun 2017 sampai minggu ketiga bulan Agustus ini mencapai 9.037,29 ton. Kebutuhan garam konsumsi di Jatim pada 2015 mencapai 149.413,70 ton, 2016 mencapai 150.289,05 ton dan 2017 sampai dengan bulan Agustus mencapai 100.751,21 ton.

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Kabare Jatim
KOMENTAR ANDA