1. HOME
  2. KABARE JATIM

Pelaku bom Kampung Melayu diduga berideologi patronase guru-murid

Kedua pelaku; Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukir, merupakan murid dari gembong kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman.

Ilustrasi penggerebekan rumah pelaku teror. ©2017 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Minggu, 28 Mei 2017 16:10

Merdeka.com, Jatim - Pakar dan peneliti terorisme dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Prof Akhmad Muzakki menilai kasus bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, merupakan tipe kelompok radikal ideologi patronase.

Diketahui, kedua pelaku; Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukir, merupakan murid dari gembong kelompok teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman. Dua minggu sebelum melakukan aksinya, kedua orang itu meminta restu dari Aman di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

"Sebelum mereka melakukan aksinya mereka izin dahulu kan ke Nusakambangan," tutur alumnus Master dan Doktor di Australian National University (ANU) itu, ketika ditemui di UINSA Surabaya, Jumat (26/5). Alasan inilah yang membuat dirinya menyimpulkan, adanya koneksi patronase guru dan murid di dalam aksi ini.

Selain patronase, peta jaringan terorisme ini juga meluas, dengan masih besarnya keterkaitan dengan Malaysia. "Jangan lupa banyaknya TKI dan TKW kita yang masih berada di sana," ujarnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2016, sekitar 6,2 juta rakyat Indonesia bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Lalu, penyumbang TKI terbesar dari Jawa Timur.

Ia menambahkan, dengan adanya fenomena bom bunuh diri, menjadi pelajaran bersama terorisme itu tidak pernah mati. Ini juga menjadi bahan reflektif, penanganan terorisme tidak cukup dengan pendekatan represif dan militeristik. "Itu tidak menyelesaikan sampai ke akar-akarnya," kata Muzakki menambahkan.

Menurut dia, sekarang perlu ada program pendampingan berupa deideologisasi. Sehingga penanganan terorisme hanya diserahkan kepada Densus 88, BNPT, kepolisian dan TNI. Tapi juga harus menyertakan ormas-ormas Islam yang memiliki kapasitas deideologisasi kepercayaan.

Ditanya ada keterkaitan antara kasus Kampung Melayu dan ISIS, Muzakki tak memungkiri. Sebab bila melihat figur-figurnya, dia melanjutkan, memang sekarang ini tidak ada kekuatan terorisme yang dijadikan simbol kekuatan dunia selain ISIS. "Karena itu demikian, indikasi ke sana sangat kuat," ujarnya.

Di samping itu, Muzakki mengungkapkan terorisme salalu mencari momen. Seperti diketahui, kejadian bom Kampung Melayu (24/5) berdekatan waktunya dengan kejadian bom di konser Ariana Grande, Manchester (22/5).

"Ketika tidak ada momen mereka tiarap, ketika ada momentum mereka melakukan serangan, biasanya ini dibangun secara interkonektivity. Istilahnya, geopolitik," katanya.

Ia menjelaskan, ada pergeseran tren dalam aksi terorisme internasional. Dulu, ketika Timur Tengah bergejolak, Indonesia ikut bergejolak. Tapi sekarang tidak lagi Timur Tengah, tapi menyasar Eropa. "Ketika Eropa bergolak, ini akan memantik kelompok-kelompok lain yang levelnya lokal untuk bergerak," ujarnya.

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Aksi Teroris
KOMENTAR ANDA
MEDIA INTERAKTIF
Keren nih! Program Seribu Dewi dari Gus Ipul bisa kurangi pengangguran dan kemiskinan

"Bayangkan kalau ada seribu desa wisata, berarti pengangguran terkurangi," kata Gus Ipul.

IKUTI DISKUSI
TERPOPULER
Pariwisata