1. HOME
  2. KABARE JATIM

Masih ada warga Myanmar yang solider dengan etnis muslim Rohingya

Tito menambahkan, permerintah Indonesia turut serta dalam upaya menyelesaikan polemik di Negeri Tanah Emas itu.

Kapolri menjadi nara sumber seminar internasional di Surabaya. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mochammad Andriansyah | Kamis, 07 September 2017 15:30

Merdeka.com, Jatim - Pembunuhan massal masih terjadi di Myanmar, melibatkan antara kaum mayoritas dengan etnis Rohingya. Namun ternyata, sebagian masyarakat di Myanmar masih ada yang berempati terhadap etnis muslim Rohingya.

"Sebenarnya masih ada masyarakat Myanmar yang solider dengan keluarga muslim di Rohingya," kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, usai menjadi pembicara pembuka di International Conference on Contemporary Social and Political Science Affair (ICoCSPA) Universitas Airlangga (UNAIR) di Hotel Garden Pallace, Surabaya, Kamis (7/9).

Pernyataan ini ia lontarkan berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Myanmar dengan menggunakan sebuah aplikasi. "Aplikasi itu bisa menyaring berbagai opini berkembang di masyarakat Myanmar," tutur Tito.

Dari hasil penelitian itu, terlihat konflik Rohingya di mata masyarakat Myanmar dipicu adanya upaya legitimasi pemerintahan. Sehingga tidak benar bila menyimpulkan konflik Rohingya berasal dari pertentangan agama.

Tito menambahkan, pemerintah Indonesia turut serta dalam upaya menyelesaikan polemik di Negeri Tanah Emas itu. Di antaranya, dengan menginstruksikan Menteri Luar Negeri RI Retno menemui Menteri Luar Negeri Myanmar Daw Aung San Suu Kyi.

"Juga disambut langsung oleh pimpinan militer di sana," kata Tito. Ia mengharapkan dari upaya diplomasi ini membuahkan hasil yang baik bagi semua pihak, terutama masyarakat Rohingya yang menjadi korban.

Sebelumnya, dalam konferensi internasional itu, Tito menceritakan kondisi dunia pasca Perang Dunia (PD) II. Ada dampak positif dan negatif. "Dampak positifnya, adanya globalisasi dan modernisasi. Juga hak asasi manusia (HAM) mulai dihargai," ungkap Tito.

Sementara negatifnya, adanya muncul upaya hegemoni di antara negara-negera besar. Negara besar berusaha menanamkan kekuasaannya di negara lainnya. Sementara, negeri kecil hanya memiliki dua pilihan mendukung salah satu pihak atau berupaya netral.

Selain itu, terorisme semakin global. Adanya teroris di suatu negara besar, akan memantik aksi teroris di negara lainnya. "Sekarang tidak lagi aksi teroris bergerak lokal, tapi sudah global," ujar Tito.

Apalagi didukung adanya dunia siber, yang memudahkan koneksi dan penyebaran informasi di seluruh bagian dunia. Untuk mengatasi itu, negara-negara di dunia harus bersinergi mengatasi perosalan teroris ini.

Isu Rohingnya untuk menjatuhkan Jokowi

Dalam kesempatan tersebut Tito Karnavian juga menyebut media sosial sebagai 'senjata' berbahaya di era modern. Melalui lini masa, orang bisa menggoreng isu hoax yang mengarah pada fitnah.

Kasus terbaru, adalah berita tragedi pembantaian warga muslim di Rohingya, Myanmar. Dengan memanfaatkan isu ini, kelompok tertentu melakukan penyerangan dan menjatuhkan wibawa pemerintah Indonesia.

Kelompok tertentu ini, kata Tito, mencoba 'menggoreng' isu Rohingya melalui Medsos seperti Twitter dan Facebook (FB). Ironisnya, isu yang disebar lebih banyak bertema tentang keagamaan daripada kemanusiaan.

"Kalau mengacu pada perangkat lunak analisis opini di platform media Twitter, yang menyatakan sebagian besar pembahasan mengenai Rohingya, dikaitkan dengan Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan pemerintahannya," terang Tito.

Dari hasil survei, kata Tito, para pengguna media sosial bukan berempati untuk menyikapi krisis kemanusiaan di Rohingya, tetapi lebih banyak mengajak umat untuk anti terhadap Pemerintahan Jokowi.

"Dari hasil penelitian Software Opinion Analysist, isu ini lebih banyak dikemas untuk 'digoreng' menyerang pemerintah yang dianggap lemah. Padahal pemerintah sudah lakukan langkah yang pas," ujarnya.

Cara-cara yang dilakukan kelompok ini, masih kata Tito, pernah digunakan dalan Pilkada serentak tahun 2017 lalu untuk menyerang salah satu pasangan calon dan pemerintah.

Nah, untuk merespon kasus Rohingya ini, Tito berharap masyarakat Indonesia tidak perlu melakukan aksi-aksi berlebihan. "Sebab, pemerintah Indonesia telah bergerak melalui cara-cara diplomasi," katanya.

(NS/MA) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Kabare Jatim
KOMENTAR ANDA