1. HOME
  2. KABARE JATIM

Lulus S1 tujuh tahun, Menpora Imam Nahrawi dianugerahi DHC dari IAIN

Imam Nahrawi menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Jihad Kebangsaan; Peran Pemuda dalam Konteks Keislaman dan Keindonesiaan".

Menpora Imam Nahrawi. ©2017 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Kamis, 14 September 2017 13:42

Merdeka.com, Jatim - Universitas Sunan Ampel Surabaya menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Imam Nahrawi dalam bidang Kepemimpinan Pemuda Berbasis Agama.

Upacara penyematan gelar kehormatan dilakukan pada Rapat Terbuka Senat UIN Sunan Ampel Surabaya di kampus setempat, Kamis (14/9).

Imam Nahrawi menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Jihad Kebangsaan; Peran Pemuda dalam Konteks Keislaman dan Keindonesiaan".

"Orasi tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Dimulai dari, Sudut Pandang Islam Melihat Pemuda, Tantangan Kepemudaan Masa Kini, dan Jihad Kebangsaan Pemuda," katanya dalam paparannya di hadapan para rektor, dekan, mahasiswa dan seluruh hadirin

Ia menjelaskan, setiap perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan dan bernegara, hampir dipastikan aktornya tidak bisa dipisahkan dari peran para pemuda. Jiwa muda yang secara psikologis berkecenderungan menginginkan hal yang baru. "Dan anti kemapanan (status quo) menjadikan pemuda sangat mudah untuk menjadi pelopor perubahan," paparnya.

Namun dalam perjalanannya, ada tiga tantangan terbesar pemuda hari ini. Pertama, bahaya destruktif pemuda dimulai dari penyalahgunaan narkoba, radikalisme dan terorisme, pergaulan bebas serta hedonisme.

Kedua, rendahnya kompetensi pemuda untuk bersaing di kancah global. Imam Nahrawi merujuk pada data BPS tahin 2015 menyebutkan, jumlah pemuda yang lulus sarjana tak lebih 8 persen atau sekitar 4,6 juta dari toral 63 juta.

"Prediksi Kemenristekditi, sampai 2030, lulusan sarjana tidak akan lebih dsri 13 persen. Padahal Malaysia, sekarang saja sudah sampai 22 persen," tambah Nahrawi.

Ini berdampak terhadap pada tingkat pengangguran. Pada 2015 lalu, BPS menyebutkan, masih sekitar 36,6 persen pemuda berstatus setengah menganggur (kadang kerja, kadang tidak). Lalu, 12,4 persen pemuda Indonesia merupakan pengangguran.

"Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2020-2035. Ini akan menjadi tantangan sekaligus ancaman. Bila tidak dikelola, lonjakan tenaga produktif yang besar akan hanya jadi beban negara," tuturnya.

Ketiga, kemajuan teknologi dan informasi. Dalam sosial media misalnya, terdapat pengaruh positif sekaligus negatif (semisal, kabar hoax, pornografi, dan lainnya).

Menanggapi tantangan dan ancaman pemuda ini, Imam Nahrawi yang menjabat Menpora sejak 2014 ini mengambil berbagai macam langkah dan strategi.

"Saya menyebutnya dengan 'Jihad Kebangsaan Pemuda' dan ini diarahkan untuk tiga hal. Di antaranya, memperkuat karakter pemuda, meningkatkan daya saing pemuda dan menjadikan media sosial sebagai alat membangun peradaban," terang Nahrawi.

Ia mencontohkan, untuk meningkatkan daya saing pemuda, Imam Nahrawi menginisasi program Pelatihan Industri Manufaktur bagi pemuda, program Pemuda Pelopor Pertanian berbasiskan sumber daya lokal.

"Saya juga memperluas program S2 untuk aktivis organisasi kepemudaan di sembilan Perguruan Tinggi Negeri," tambah Nahrawi.

Sementara itu, Direktur Direktur Pascasarjana UINSA Prof Husein Aziz sekaligus promotor mengatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa (HC) ini berdasarkan kajian-kajian akademik yang dilakukan oleh UINSA. "Banyak gagasan-gasan besar yang dihasilkan oleh Imam Nahrawi," kata Husein.

Menurut dia, Imam Nahrawi berupaya keras untuk mengintegrasikan antara sains dan agama di setiap pengambilan keputusannya.

Imam Nahrawi merupakan alumnus UIN (dulu IAIN) Sunan Ampel Surabaya pada 1997. Dia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah. "Saya lulus S1 selama tujuh tahun. Saya harap ini tidak ditiru," kata Imam Nahrawi bercanda di tengah orasinya.

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Kabare Jatim
KOMENTAR ANDA