1. HOME
  2. KABARE JATIM

Lapan gandeng ITS dalam teknologi pembuatan Satelit LAPAN A5

"Saya berharap dengan kerja sama ini maka peran ITS akan semakin terlihat dalam kerja sama ini," kata Ketut.

Diskusi perkembangan satelit di Indonesia. ©2017 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Kamis, 07 September 2017 12:19

Merdeka.com, Jatim - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antaraiksa Nasional (Lapan) RI dalam memproduksi satelit nasional. Setelah berhasil mengambil andil dalam proyek pembuatan Satelit LAPAN A4 yang sedang dalam proses produksi, kali ini ITS akan dilibatkan pula dalam pembuatan Satelit LAPAN A5.

Dalam seri satelit A ini, Lapan telah berhasil meluncurkan Satelit A1 pada tahun 2007, kemudian meluncurkan Satelit LAPAN A2 pada 2012, Satelit LAPAN A3 pada 2016 dan LAPAN A4 yang sedang berada dalam proses produksi. Untuk Satelit LAPAN A5, Lapan secara khusus bekerja sama dengan Chiba University, Jepang.

Dalam kuliah tamu yang bertempat di Ruang Sidang Utama Rektorat ITS, Rabu (6/9), Ketua Tim Satelit A5 LAPAN, Albertus Heru, mengatakan kerja sama antara Lapan dan Chiba University telah berlangsung sejak penandatanganan Memo of Understanding (MoU) pada Mei 2013 lalu. Chiba University diwakili Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, pemilik Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL).

"Lapan akan mengerjakan Platform/BUS-nya, sedangkan Profesor Josaphat akan menggarap sensor SAR untuk payload-nya," kata pria yang biasa disapa Heru ini dalam kuliah yang bertajuk Perkembangan Teknologi Satelit di Indonesia (A1 – A5) tersebut.

Teknologi yang dikembangkan untuk Satelit LAPAN A5 ini, lanjutnya, merupakan teknologi microsatelit canggih pertama di dunia yang menggunakan Synthetic Aperture Radar (SAR). Yakni merupakan bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar objek dua dimensi atau tiga dimensi, seperti landscape. SAR merupakan bentuk lanjutan dari Side Looking Airbone Radar (SLAR). Biasanya SAR dipasang pada platform yang bergerak, seperti pesawat terbang atau pesawat ruang angkasa.

Pada kesempatan sama, Josaphat menjelaskan SAR memiliki frekuensi 1-40 Giga hertz. Sedangkan panjang gelombang yang dihasilkan adalah 1 cm - 1 m lebih panjang dari butiran air di awan. "Dengan frekuensi dan panjang gelombang tersebut, dengan teknologi SAR ini dapat menembus awan, kabut, maupun asap yang menghalangi sensor," papar Josaphat lagi.

Kelebihan lain, adalah saat penggunaan satelit pada malam hari. Sumber cahaya satelit ini berasal dari satelit sendiri sehingga kapanpun waktunya, satelit dapat tetap menghasilkan citranya. "Mulai dari intensity, fase, polarisasi, semua infonya dapat. Kita juga bisa mengetahui jarak dari suatu objek, akurasinya hanya beberapa sentimeter," ungkap pria kelahiran Bandung tersebut.

Bahkan menurut Josaphat, teknologi tersebut juga dapat melakukan mapping air bawah tanah. Teknologi SAR tentu jauh lebih baik dan dapat menghasilkan citra lebih baik daripada teknologi konvensional.

Ketika ditanya soal resolusi satelit, Josaphat menjawab semua kembali lagi pada bandwidth (lebar pita). "Makin lebar bandwidth-nya, maka makin kecil resolusinya," tutur pendiri yayasan Pandhito Panji Foundation tersebut. Bandwidth sendiri dalam teknologi komunikasi merupakan perbedaan antara frekuensi terendah dan frekuensi tertinggi dalam rentang tertentu.

Satelit ini, dia melanjutkan, sangat bermanfaat untuk kegiatan perikanan dan maritim. "Banyak kecelakaan di darat atau laut. Saat ini Jepang pun terlalu banyak memiliki jalan tol. Pasti sulit jika melakukan pengawasan satu persatu," katanya lalu menjelaskan jika satelit ini juga dapat mengetahui terowongan-terowongan besar agar dapat menghindari kerubuhannya. Bahkan satelit ini juga dapat mendeteksi pergerakan teroris.

Saat ini, pembuatan Satelit LAPAN A5 memasuki tahap riset model. Sebenarnya, ide teknologi SAR ini telah banyak dilirik oleh berbagai negara di dunia. "Sudah banyak diadopsi beberapa negara untuk merealisasikan, jadi kita dikejar waktu untuk membuatnya menjadi yang pertama di dunia," ujarnya.

Selain Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dan Albertus Heru yang menyampaikan materi terkait satelit, dalam kuliah tamu ini juga dihadirkan narasumber lain dari Departemen Teknik Geomatika ITS sendiri, Bangun Muljo Sukojo yang ahli dalam bidang geospasial.

Wakil Rektor IV bidang Penelitian, Inovasi dan Kerja Sama ITS, Ketut Buda Artana, berharap agar ITS dapat banyak memberi kontribusi untuk pengembangan Satelit LAPAN A5 ini. "Butuh kerja sama baik dari Lapan, Chiba University dan ITS. Saya berharap dengan kerja sama ini maka peran ITS akan semakin terlihat dalam kerja sama ini," kata Ketut.

Kuliah tamu tersebut dilanjutkan dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) oleh semua tim satelit dari ITS, LAPAN, dan Josaphat. Dari ITS sendiri melibatkan perwakilan dari beberapa departemen yang terkait antara lain Teknik Geomatika, Teknik Elektro, Teknik Material, Teknik Kelautan, dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).

Tahun ini, Satelit LAPAN A5 telah melalui tahapan desain flight model. Tahun depan perkembangannya menargetkan preliminary design review dan flight model SAR telah dilakukan. Target peluncurannya pada tahun 2021 akhir atau awal tahun 2022.

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Kabar Kampus
KOMENTAR ANDA