1. HOME
  2. KABARE JATIM

ITS bikin alat penghitung bakteri TBC

TB-Analyzer memiliki kemampuan yang akurat dan kuat dalam menghitung ratusan gambar bakteri.

©2018 Merdeka.com Editor : Nur Salam | Senin, 15 Januari 2018 15:24

Merdeka.com, Jatim - World Health Organization (WHO) menyatakan tuberculosis (TBC) merupakan salah satu penyakit penyumbang kematian tertinggi di dunia. Salah satu penyebabnya adalah tidak akuratnya informasi tingkat keparahan penderita. Jumlah angka kematian mencapai 1,7 juta jiwa per tahun.

Melihat kondisi tersebut, dosen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang sebuah inovasi alat yang diberi nama TB-Analyzer. Alat ini dapat menghitung jumlah bakteri tuberculosis secara akurat. Dengan alat ini, tenaga medis mampu memotong waktu diagnosis selama berjam-jam.

Dr I Ketut Eddy Purnama ST MT, dosen perancang TB-Analyzer, mengungkapkan bahwa selama ini diagnosa tuberculosis masih dilaksanakan secara manual. "Dokter dan perawat masih menggunakan mata dengan menghitung adanya bakteri tahan asam (BTA) pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik," kata dosen Departemen Teknik Komputer, Fakultas Teknologi Elektro ITS tersebut.

Penghitungan ini seringkali tidak akurat. Hal ini dikarenakan area yang diperiksa sangat luas sehingga tidak memungkinkan untuk menghitung jumlah bakteri secara teliti. "Bayangkan ada 100 area, lalu kita memindahkannya satu-satu dengan tangan. Pasti nanti akan ada yang terlewat entah karena lalai atau lelah," jelas Kepala Laboratorium Sinyal Digital ITS ini.

Ketut menggandeng tiga tim dosen lainnya untuk melakukan penelitian. Ketiga dosen tersebut antara lain Arman Hakim Nasution dari Departemen Manajemen Bisnis, Supeno Mardi Susiki Nugroho dan Arief Kurniawan dari Departemen Teknik Komputer.

Selama lebih dari tiga tahun, Ketut dan tim melakukan penelitian sampai akhirnya dihasilkan alat penghitung bakteri tuberculosis yang diberi nama TB-Analyzer: Smart System to Count Tubercolosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically. Alat ini merupakan sistem terpadu antara aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk analisis citra mikroskopik.

Ia menjelaskan, bagian perangkat kerasnya terdiri dari komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital. Sementara bagian aplikasi mampu menginstruksikan untuk menggerakkan motor dan mendapatkan fokus pada bakteri agar mendapatkan puluhan gambar yang tidak tumpang tindih.

Lulusan University of Groningen ini menjelaskan cara kerja alat ini diawali dengan penderita melakukan X-Ray untuk menentukan apa pasien terjangkit TBC atau tidak. Ketika didiagnosa menderita TBC, dahak dari penderita diambil di atas preparat dahak, dikeringkan lalu dibakar. Tujuan pembakaran ini untuk melelehkan bakteri yang berbentuk batang dengan lapisan lilin.

Ketika pembakaran selesai, preparat diberi warna dengan menggunakan Ziehl Neelsen. Setelah itu, preparat didinginkan dan diletakkan kembali di atas mikroskop digital. Nantinya, bakteri akan secara otomatis muncul di layar komputer.

TB-Analyzer memiliki kemampuan yang akurat dan kuat dalam menghitung ratusan gambar bakteri serta mampu menghitungnya dalam berbagai macam skala gambar. Namun TB-Analyzer yang dibuat ini masih dalam tahap penyempurnaan. "Kami masih akan menyempurnakan bagian mekaniknya terlebih dahulu. Setelahnya, produk ini akan mulai dipasarkan dengan menggandeng rumah sakit milik pemerintah maupun swasta, klinik, serta laboratorium penelitian," katanya.

(NS) Laporan: Fahmi Aziz
  1. Fasilitas Kesehatan
  2. Kesehatan
KOMENTAR ANDA
MEDIA INTERAKTIF
Keren nih! Program Seribu Dewi dari Gus Ipul bisa kurangi pengangguran dan kemiskinan

"Bayangkan kalau ada seribu desa wisata, berarti pengangguran terkurangi," kata Gus Ipul.

IKUTI DISKUSI
TERPOPULER
Pariwisata