1. HOME
  2. KABARE JATIM

Ajak UMKM go online, Kemenkominfo siapkan sejuta domain gratis

"Jadi kebetulan komunikasi dan informatika mempunyai program, yang tahun ini adalah program kerakyatan, ekonomi kerakyatan," kata Septriana.

Prospek Penggunaan e-Commerce. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mochammad Andriansyah | Senin, 12 Juni 2017 10:23

Merdeka.com, Jatim - Sesuai Program Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi) di bidang ekonomi, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) mengajak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur segera go-online. Saat ini, Kemenkominfo telah menyiapkan 1 juta domain.id plus web hostingnya secara gratis.

Kabar baik ini disampaikan Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo RI, Septriana Tangkary saat menjadi pembicara di pelatihan Prospek Penggunaan e-Commerce untuk UMKM di Jawa Timur, Minggu sore (11/6). Hadir juga Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia dan pihak Bank Indonesia (BI), Dery Rossianto.

"Jadi kami, juga kebetulan komunikasi dan informatika mempunyai program, yang tahun ini adalah program kerakyatan, ekonomi kerakyatan. Bagaimana Indonesia berdiri ke depan untuk menjadi ASEAN Energy. Artinya, kita mengajak, khususnya UKM di Jawa Timur segera go online. Apalagi (kegiatan) hari ini dipelopori Lanskap Indonesia dan Bank Indonesia. Kita bersinergi menggerakkan UKM dari yang biasa saja, menjadi yang go online," katanya.

Kominfo sendiri, telah melakukan MoU (bekerja sama) dengan semua kementerian seperti kementerian perindustrian, perdagangan, serta BUMN. Selain itu, juga bersinergi dengan semua marketplace seperti blibli.com, belanja.com, tokopedia.com dan lain-lain. "Ada 1 juta domain.id yang akan diberikan ke UKM-UKM. Ada 40 ribu yang akan diberikan web domain.id, plus web hostingnya. Dan itu free dari Kominfo. Jadi kita bergerak semua, tidak ada kata tidak. Kita harus bergerak bersama-sama untuk go online," ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, Kominfo juga telah membentuk Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Indonesia. "Jadi utamanya, Indonesia, bagaimana bisa mengajak seluruh UKM, dari 3 juta UKM yang 9 persen ini sudah advance (maju), yang 18 persen masih menggunakan media sangat sederhana. Masih menggunakan WhatsApp, kemudian masih menggunakan teknologi Instagram dan lain-lain."

Sementara yang 36 persen, UKM masih menggunakan sistem manual, yaitu menggunakan handphone (HP) dan SMS (pesan elektronik). Sedang 37 persennya masih benar-benar menggunakan HP. "Jadi kita menggerakkan, bagaimana bila kita meng-online-kan suatu UKM, mengajak seluruh UKM di Indonesia untuk go online agar pendapatan Produk Domestik Bruto (PDB) itu naik sebesar 2 persen," katanya.

Sebab menurut dia, setiap meng-online-kan satu UKM, pendapatan para pelaku usaha bisa naik dua kali lipat. "Jadi ini program nasional. Saatnya kita bersama-sama bergerak. Karena UKM adalah suatu badan yang pada saat perekonomian dunia itu jatuh pada 2008, UKM itu tidak pernah jatuh. Dan itulah contoh Indonesia yang kuat. Pak Jokowi sendiri, menginginkan perekonomian ada di tangan UKM-UKM. Kita ingin menjual produk Indonesia ke dunia luar, itu yang disarankan Pak Jokowi untuk digital ekonomi of Asia," ujarnya.

Di bagian lain, Kepala Devisi Pengembangan Ekonomi Daerah Bank Indonesia, Dery Rossianto mengatakan, dalam kegiatan ini, pihaknya lebih konsen pada masalah transaksi pembayarannya berbasis online atau e-Commerce. "BI itu lebih konsen, kalau misalkan sekarang perkembangan perdagangan itu yang dari mulai kita tatap muka, berhadap-hadapan, sekarang kita sudah mulai dari HP. Dengan banyaknya (bisnis) star-up itu, maka BI mungkin lebih berperan pada sistem pembayarannya," kata Dery.

Menurutnya, e-Commerce itu ada barang, ada penjual, ada pembeli, dan ada transportasi memindah barang dari produsen ke pembeli (jasa transportasi logistik). "Kalau barang berputar lebih cepat, tapi sistem pembayarannya lambat, maka akan menghambat e-Commerce. Misalkan harus membawa cash, atau harus masuk lagi ke ATM. Sekarang sudah banyak star-up. Marketplacenya sudah ada seperti Lazada, atau Buka Lapak. Kita beli di situ, bayar juga di tempat itu juga. Jadi sistem pembayarannya lebih mempercepat," ujarnya.

(NS/MA)
  1. Industri Kreatif
  2. Bisnis
KOMENTAR ANDA