1. HOME
  2. BISNIS

Gus Ipul desak pemerintah pusat segera atasi persoalan garam

Caranya dengan mengeluarkan diskresi agar dapat mengimpor garam untuk memenuhi kelangkaan garam dalam negeri.

©2017 Merdeka.com Reporter : Mochammad Andriansyah | Sabtu, 22 Juli 2017 14:08

Merdeka.com, Jatim - Seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur mengalami kelangkaan garam konsumsi. Akibatnya, saat ini harga garam meroket tajam. Bahkan harganya mencapai dua kali lipat dari harga normal.

Data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Timur, pada Juli 2014, harga garam konsumsi mencapai Rp 2.984 perkilogramnya. Di bulan Juli 2015, naik menjadi maka Rp 3.308 perkilogramnya. Harga ini kembali naik di bulan Juli 2016, yaitu Rp 3.883, dan pada Juli 2017 kembali naik tajam menjadi Rp 5.792.

Terkait masalah ini, Pemprov Jawa Timur berharap pihak Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan segera mencari solusinya. Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan, Jawa Timur adalah sentra garam, dan menyumbang 40 persen kebutuhan garam nasional. "Jika garam di Jatim langka, tentu berpengaruh ke daerah lain," kata Gus Ipul, Jumat (21/7).

Terkait kelangkaan ini, lanjutnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur juga telah berkoordinasi seluruh provinsi yang ada di Indonesia untuk mencari jika ada stok garam. Namun stok garam di seluruh daerah juga sudah habis.

Menurut Gus Ipul, kelangkaan garam yang terjadi saat ini, merupakan imbas dari tidak menentunya musim yang terjadi sejak 2016. Akibat panjangnya musim penghujan, petani garam di Jawa Timur hanya mampu menghasilkan 123.873 ton garam dari target produksi 1,2 juta ton.

"Tahun ini, target 1,2 juta ton pertahun juga tidak terpenuhi. Hingga bulan ini, petani di Jatim hanya mampu menghasilkan 689 ton. Padahal kebutuhan garam konsumsi masyarakat di Jatim, pertahunnya sekitar 150 ribu ton," ujarnya.

Dengan minimnya pasokan garam petani, maka garam yang beredar di pasaran menjadi langka dan harganya mahal. Sebenarnya, impor garam bisa dilakukan. Namun keinginan impor itu, terkendala peraturan pemerintah, yang hanya bisa dilakukan untuk garam yang kadar Natrium Klorida-nya (NaCL) di bawah 97 persen.

Selama ini, garam dengan kandungan NaCL digunakan untuk garam produksi. Sedang garam konsumsi kandungan NaCL-nya hanya 94-96 persen. "PT Garam sebagai satu-satunya importir yang bisa mendatangkan garam konsumsi juga kesulitan mencari garam dengan kandungan NaCL di bawah 97 persen," ungkap Gus Ipul.

Beberapa negara lumbung garam saat ini sudah sangat jarang memproduksi garam dengan kandungan NaCL di bawah 97 persen. "Karenannya kami minta pemerintah pusat bisa memberikan diskresi agar importir garam konsumsi bisa mendatangkan garam dengan NaCL 97 persen," ujar Gus Ipul.

Jika tak segera mendapatkan diskresi, Gus Ipul khawatir garam konsumsi di Indonesia akan semakin langka. "Akibatnya, harga garam konsumsi akan terus melambung dan membebani masyarakat," tandasnya.

(NS/MA)
  1. Ngopi Bareng Gus Ipul
  2. Perdagangan
KOMENTAR ANDA